Ø
Mungkin begini rasanya saat kehilangan. Kau sendiri, di pojok kamar, rambutmu berantakan—namun tak sedikitpun terlintas di benak untuk berbenah.
Kau tahu kau sudah tak beres saat kau memandang sekelilingmu: sprei yang tertarik ke bawah, cahaya matahari mengintip sedikit dari balik gorden, semua kepedihan itu, kau tahu—menusuk hati seperti pisau yang menikam.
Matamu sayu.
Kalau aku punya kesempatan.
Tidak.
Kalau aku yang sekarang ada di sana… dan bukannya dia.
Tapi, pada akhirnya, yang ada di sana tetaplah dia dan bukanlah dirimu.
Terkadang kau ingat saat kau dan pria itu bertukar pandang, mungkin saat itu adalah masa-masa penuh mimpi, saat kau merasa tatapannya bisa mengubah segalanya, tersenyum, gerak-gerik dan gesturnya terasa bagai gerakan lambat, kau terhipnotis — kau tahu — dan tiba-tiba saja sekarang kau harus bangun dari mimpi, terjatuh, tertusuk dari belakang.
Meskipun sejak awal dia sudah tahu ada yang menunggu dengan pisau di belakangnya, namun luka tetap saja membekas.
Kau membuka mata perlahan, namun kau mendapati bahwa cahaya matahari yang mengintip itu terlalu menyilaukanmu. Maka, kau memejamkan mata, dan bayangan masa lalu itu menyergap lagi perlahan-lahan bagai hantu, tubuhmu lemas dan kepalamu pusing, dan saat kau terbangun nanti, yang tersisa hanyalah jejak-jejak air mata yang membekas di pipi, terasa asin saat terjilat, melengketkan rambut dan bulu-bulu matamu.
chase
…tanpa sadar selama ini hanya sosokmulah yang selalu aku kejar. Yang aku lihat adalah punggungmu. Menutupi mataku. Kadang kala jelas terlihat, kadangkala membayang dengan semburat-semburat cahaya ungu. Kadang kau menengok sebentar—ke belakang, tertutup oleh cahaya. Bahkan biarpun kau hanya menengok sebentar saja.
Langkah-langkahmu selalu kuikuti. Menapaki jalan yang sama denganmu — bagai sebuah mimpi. Kau tak pernah berkata apapun. Tak pernah kudengar ya ataupun tidak, sehingga keraguan terus menggantung di sudut hati. Tapi aku tetap berjalan. Berharap suatu hari kau akan menengok lagi ke belakang, mungkin mengulurkan tanganmu dan mengajakku berjalan sejajar denganmu.
Namun langkahmu makin lama makin jauh. Sekali saat aku terjatuh kau berhenti dan membantuku berdiri. Tapi hanya itu. Aku tak ingin kau menoleh karena aku jatuh — aku ingin kau menengok ke belakang, lalu tersenyum, lalu mengulurkan tanganmu, mengajakku berjalan denganmu…
Tapi ternyata aku sudah terlalu capek mengejar.
Selamat tinggal.

Dia sangat cantik—dia tahu itu. Seluruh tubuhnya berkilauan, bersinar dalam cahaya lampu, dengan langkahnya yang perlahan tapi pasti karena dia tak ingin orang-orang itu melewatkan penampilannya—karena dia adalah ratu, ya, dia pastikan bahwa malam ini dia adalah ratu.
Semua orang harus tahu betapa ia adalah seorang yang menakjubkan, jelita, dan nyaris sempurna, karena perutnya terasa begitu sakit, dan harus ada sesuatu untuk membayarkan rasa sakit, kaki yang bengkak dan ngilu, malam-malam tanpa tidur, dan tubuh yang kehilangan jiwanya.
remember
Aku ingat kita pernah banyak menghabiskan malam bersama, tak pernah lewat tengah malam meskipun aku bukan cinderella, karena kau sudah lama sekali menemukan sepatuku.
Tapi kau sudah punya terlalu banyak. Aku ingat waktu kita berdiri di luar bangunan itu, aku yakin apa yang ada di dalam pikiran kita waktu itu, dengan pandangan mata kita saling bertanya.
Aku ingin menggenggam tanganmu, tapi tak pernah kulakukan.
Tak akan lagi, tapi aku tahu aku tak akan pernah bisa melupakanmu, tidak setidaknya sampai lima tahun lagi. Kali ini, saat pandangan mata kita bertemu, aku berharap kau baik-baik saja.
a place we called home - draft
Saat orang ditanya tentang mimpi, yang pertama mereka ingat adalah bagaimana mimpi mereka, cita-cita mereka, dan apa yang ingin mereka lakukan di masa depan. Setelah itu mereka baru bicara tentang bunga tidur; sesuatu yang hanya bisa diingat sekilas untuk kemudian dilupakan, untuk kemudian diingat lagi sepotong-potong, untuk dibiarkan berlalu karena itu hanyalah bunga tidur.
Tapi Uchiha Sasuke tidak dapat melihat mimpi yang seperti itu. Mimpinya adalah berrgelimang darah—darah yang didalamnya juga terdapat bagian yang mengalir dalam dirinya. Mimpinya penuh dengan kekerasan, kebencian, dendam, dan pengkhianatan. Mimpinya yang lain adalah sesuatu yang selalu menghantuinya saat tidur, terpatri di kepalanya sebagai ingatan yang begitu bersih sampai seakan-akan ia dapat menyentuh apa-apa yang ada di dalamnya dengan tangannya, karena mimpi itu begitu kasat mata dan ia hapal detik demi detik isinya.
Berlari melalui jalanan yang lengang dan dingin, mata merah yang membuat tubuhnya terasa tertusuk-tusuk, keringat dingin yang mengaliri pelipis, tumpukan mayat di sudut jalan. Ia begitu panik dan terus berlari; ke rumahnya, karena ia sangat tak nyaman berada di luar. Ia ingin segera pulang, ke rumahnya, di mana ia dapat merasakan nyaman, berharap senyum Ibunya yang menyambutnya begitu ia membuka pintu, bahkan suara ayahnya yang sedang menghirup teh sudah cukup.
Lalu tangannya menggapai, namun tak dapat mencapai tangan kedua orang tuanya. Tangannya terlalu kecil, sosok yang sudah sangat ia kenal berdiri hanya beberapa langkah darinya. Mereka begitu dekat, namun ia tak dapat menyentuhnya. Lalu sosok itu tersenyum sinis, mengangkat samurainya dan menusuk ayah. Menusuk ibu.
Berulang, perlahan. Lalu semua kembali ke awal saat ia berlari, kadang ia muncul dari pelataran akademi yang lengang, kadang ia muncul dari depan toko manisan milik paman dan bibinya yang bercipratan darah, kadang dari ujung jalan yang entah ada di mana — namun akhirnya selalu sama, ia tak sempat meraih tangan kedua orang tuanya, dan mereka akan terus menerus ditusuk dan tersiksa.
Lalu matanya terbuka, dan ia terbangun dalam kegelapan—keringat dingin membanjiri tubuhnya, bau lembap memenuhi rongga hidung, dan ketukan halus mendesis terdengar dari satu-satunya pintu di ruangannya.
repost from my old dreamwidth because I like to have all my bits and wips all in one place. this one has been posted one year ago, though.